Selasa, 19 Januari 2010

CARA MENDIDIK GAJAH

Apakah anda pernah memperhatikan kehidupan gajah-gajah sirkus?
Kakinya diikat dengan rantai ringan, kemudian diikat kesebuah tonggak baja yang ditanam ditanah.

Barangkali sulit bagi anak gajah (gajah kecil) untuk menarik tonggaknya dan berusaha kabur. Mengapa demikian?

Sejak kecil kaki gajah-gajah itu sudah dirantai selama berjam-jam setiap hari, Kemudian rantainya diikat ke sebuah batu beton.Tentu saja Gajah ini akan meronta-ronta dan menjerit-jerit. Tetapi usahanya pastilah sia-sia karena rantainya terlalu kuat bagi mereka. Usaha mereka tak akan membuahkan hasil, akhirnya mereka pasrah dan tidak mau usaha lagi.

Secara mental Gajah-gajah itu terlanjur terkondisi untuk merasakan yakin dalam kondisi kaki terantai mereka tidak mungkin bisa kabur, Gajah-gajah sudah tidak melihat lagi rantainya besar atau kecil lagi maupun ikatannya keras atau longgar dengan rantai dikaki mereka pikir tidak akan mungkin membebaskan diri.

Sejak kecil Manusia juga dikondisikan oleh “Pembina”nya. Kecuali Naluri bawaan Manusia lahir tanpa dibekali ilmu pengetahuan.Mereka bagaikan kertas putih yang masih kosong dan akan dikondisikan (diisi) oleh para “Pembina”nya entah Orang tuanya, Guru pembimbingnya, Saudaranya, Temannya atau Iklan, Televisi dsb.Pada umunya pengkondisiannya ini terjadi hampir tanpa terasa dan berulang-ulang tanpa kita sadari.Akibatnya ia masuk dan tersimpan di alam bawah sadar, dan selanjutnya kita gunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.Masalahnya kita jadi terikat oleh rantai-rantai mental dan emosional itu.

>>> Orang tua kita berkata : “Anak-anak harus diperhatikan bukan untuk didengar”

>>> Guru-guru kita berkata : “ Jangan bicara kalau tidak ditanya “

>>> Teman-teman kita berkata : “ Jangan mau keluar dari pekerjaan yang sudah pasti “

>>> Masyarakat Kita berkata : “ Bayar jaminan anda, Menabunglah untuk masa tua”

Media masa pun tak henti mengingatkan bahwa kita tidak sempurna, untuk menjadi pribadi bahagia tubuh harus langsing dan harum : kulit, rambut dan gigi sempurna.Peringatan –peringatan tersebut disampaikan secara halus dan berulang-ulang sehingga masuk dalam sistem keyakinan kita. Pada waktu kita tumbuh dan memasuki tahap belajar kita terus-menerus mendapat masukan bahwa kita tidak dapat berbuat lebih banyak dari yang kita dapat kita capai.Seperti halnya gajah yang dikondisikan untuk percaya bahwa dia tidak bisa melepaskan diri, Kitapun dengan mudah dapat menjadi pribadi-pribadi yang bersikap tidak mampu, sementara sukses kita dibatasi oleh pengkondisian negatif yang terjadi berulang-ulang.


PENDEKATAN PEMINDAHAN

SEKARANG, B
ayangkan bahwa kebiasaan-kebiasaan ataupun sikap anda tentang
kehidupan saat ini adalah seperti air dalam ember. Sebagian besar air dalam ember telah diisi oleh orang lain yakni orang tua kita, guru kita, pemimpin kita dan media.

SEKARANG, Bayangkan seolah-olah setiap kecakapan dan pendekatan positif yang baru anda pelajari adalah sebutir batu kerikil. Ketika anda melemparkan kerikil ke dalam ember, anggaplah air yang tumpah adalah kebiasaan-kebiasaan dan sikap negatif yang anda miliki saat ini.Lambat laun batu-batu kerikil ini akan dapat membuang sebagian besar air dari dalam ember dan hasilnya ember akan penuh dengan berbagai kecakapan, sikap serta kebiasaan positif yang sangat berguna dalam kehidupan.

Kehidupan kita di dunia ini banyak informasi sampah yang kita peroleh sehingga apa yang kita anggap seolah-olah baik tetapi membuat kita tidak dapat mencapai lebih banyak yang dapat kita capai.

Untuk menambah kecakapan dan pendekatan positif kita dapat membaca buku motivasi dengan judul “ Berpikir dan Berjiwa Besar ” By David J. Schwartz , “ Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain “ By Dale Carnegie . Ini sebagian kecil dari buku motivasi yang ada dipasaran.

1 komentar:

  1. wkwkwkkkkk....,
    analoginya ga jauh2 jg dr gendut2 spt gajah..,
    tp passsss...,
    setujuuuuu... 5jempol.

    BalasHapus